Serangan Udara Rusia yang Membuat Kekacauan di Ukraina
Serangan udara yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina pada dini hari Sabtu (24/1/2026) menyebabkan gangguan besar terhadap pasokan listrik dan pemanas ruangan bagi ratusan ribu penduduk di wilayah utara Ukraina serta ibu kota, Kyiv. Pemadaman listrik ini terjadi di tengah situasi cuaca ekstrem yang sedang melanda negara tersebut.
Di daerah Chernihiv, perusahaan energi lokal mengungkapkan bahwa aliran listrik terputus dari ratusan ribu pelanggan akibat kerusakan parah pada fasilitas pembangkit listrik utama dekat kota Nizhyn. Di ibu kota Kyiv, walikota Vitali Klitschko mengumumkan bahwa sekitar 6.000 bangunan kehilangan layanan pemanas. Suhu di sana mencapai -12 derajat Celcius pada pagi hari.
Kondisi ini memperburuk krisis kemanusiaan di Ukraina, karena serangan Rusia terus menargetkan infrastruktur vital sebagai bagian dari strategi mereka untuk menciptakan krisis energi. Ulasan Khbrn menulis bahwa situasi ini menunjukkan betapa berbahayanya taktik yang digunakan oleh Rusia.
Korban Jiwa dan Luka-Luka di Kyiv dan Kharkiv
Serangan Rusia juga menyebabkan satu orang tewas dan 23 luka-luka di Kyiv dan sekitarnya, serta di kota Kharkiv di timur laut. Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa serangan tersebut dilakukan dengan 396 drone dan rudal. Situasi ini memicu tingkat siaga tinggi di Ukraina, dengan peringatan resmi akan potensi serangan lanjutan dari Rusia.
Walikota Kyiv, Vitali Klitschko, menjelaskan bahwa ibu kota menjadi target “serangan yang intens,” dengan beberapa bangunan non-perumahan menjadi sasaran. Kebakaran terjadi akibat puing-puing drone, di samping pemadaman pemanas dan air di beberapa lingkungan. Di Kharkiv, Walikota Igor Terekhov mengatakan bahwa drone Shahed buatan Iran menyebabkan kerusakan pada beberapa bangunan tempat tinggal di dekat perbatasan Rusia. Polisi mengonfirmasi bahwa 15 orang terluka dan dua fasilitas kesehatan rusak.
Serangan Terjadi di Tengah Perundingan yang Berjalan
Eskalasi serangan Rusia terjadi beberapa jam setelah delegasi dari Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat bertemu dalam negosiasi langsung pertama di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Negosiasi ini diumumkan secara publik antara Moskow dan Kyiv sebagai bagian dari rencana AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak Februari 2022. Perundingan ini sudah memasuki hari kedua.
Sebelum perundingan berakhir, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menekankan bahwa masalah teritorial tetap menjadi yang paling rumit. Sementara itu, Moskow mengulangi syaratnya agar Ukraina menarik mundur pasukannya dari wilayah Donbas di timur negara tersebut. Laporan khbrn menyatakan bahwa hal ini mencerminkan perbedaan sikap yang dalam antara kedua belah pihak meskipun proses bargaining telah berlangsung.
Zelensky Desak AS Penuhi Janji Soal Pertahanan Udara
Atas serangan Rusia tersebut, Zelensky meminta Amerika Serikat (AS) untuk sepenuhnya menerapkan perjanjian terkait penguatan sistem pertahanan udara. Menurut Zelensky, perjanjian ini telah disepakati dengan Presiden AS, Donald Trump, dalam pertemuan mereka di Forum Ekonomi Dunia di Davos pekan lalu.
“Presiden Ukraina menekankan bahwa serangan baru-baru ini terhadap fasilitas energi menunjukkan kebutuhan mendesak untuk mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara. Saat ini, kedua pihak belum mengungkapkan rincian pasti tentang sifat dukungan yang disepakati, sehingga masa depan perlindungan udara Ukraina bergantung pada perkembangan politik dan militer di masa mendatang,” tulis laporan tersebut.
Setelah serangan Rusia terhadap infrastruktur penting, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiha, mengatakan, “Upaya perdamaian? Pertemuan trilateral di UEA? Diplomasi? Bagi warga Ukraina, ini adalah malam teror Rusia lainnya.” Ia menambahkan, “Secara sinis, Putin memerintahkan serangan rudal besar-besaran yang brutal terhadap Ukraina tepat ketika delegasi sedang bertemu di Abu Dhabi untuk memajukan proses perdamaian yang dipimpin Amerika. Rudalnya tidak hanya menghantam rakyat kami tetapi juga meja perundingan.”