Susu Kotak Pertama di Tangan Anak-Anak di Perbatasan Negara

Nurlela Rasyid
6 Min Read

Kondisi Sekolah Dasar Negeri Tublopo 2

Di kampung Muken, Desa Tublopo, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat sebuah sekolah dasar yang memiliki kondisi yang sangat sederhana. SDN Tublopo 2 berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Kefamenanu. Jalan yang sulit membuat waktu tempuh mencapai satu jam untuk tiba di sekolah ini.

Seluruh ruang kelas di sekolah ini memiliki dinding bebak dan atap terbuat dari seng bekas atau daun lontar. Meskipun demikian, para siswa tetap menikmati fasilitas yang ada. Suasana kelas terasa tenang saat para siswa duduk rapi di atas kursi usang dengan meja berwarna cokelat nyaris hitam. Mereka kemudian membagikan makanan siap saji dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah memimpin doa makan bersama.

Anak-anak yang Menikmati Makanan MBG

Julio Vindi Sila (11 tahun) adalah salah satu siswa Kelas V yang aktif mengikuti pelajaran. Ia bersama rekan-rekannya menjinjing dua ikat ompreng aluminium berisi makanan siap saji dari mobil box ke dalam ruang guru. Mereka menyantap menu hidangan dari MBG dengan lahap, memberikan senyum di wajah mereka.

Musim hujan menjadi tantangan bagi siswa-siswi di sekolah ini. Para guru sering meminta anak-anak pulang lebih awal karena banjir dan atap yang bocor. Beberapa anak menggunakan sendal jepit, sedangkan yang lainnya masih menggunakan sepatu. Namun, hal ini sudah menjadi kebiasaan sejak sekolah direlokasi ke tempat ini pada tahun 2018.

Kehidupan Seorang Petani

Vindi merupakan anak seorang petani di Desa Tublopo. Ayahnya bernama Gregorius Goris Sila dan ibunya, Paulina Abi. Ia memiliki seorang adik perempuan yang sedang mengenyam pendidikan di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Meski tinggal di lingkungan sederhana, Vindi merasa bahwa pendidikan adalah investasi masa depan. Ia rajin ke sekolah meskipun ruang kelas tidak memadai.

Ia bersyukur dengan cinta yang tak pernah habis dari orang tuanya. Meskipun orang tua bukanlah orang berkecukupan, mereka selalu memberikan motivasi agar Vindi dan saudaranya rajin bersekolah.

Susu Minuman “Kaum Bangsawan”

Vindi mengaku senang menjadi penerima manfaat Program MBG. Ia mengakui bahwa masakan yang dihidangkan sangat enak. Setiap hari mereka mengonsumsi daging ayam. “Enak sekali. Kalau di rumah, jarang makan ayam,” ujarnya dengan nada suara serak.

Selain makanan, Vindi juga senang minum susu. Susu biasanya disajikan pada Hari Jumat oleh Dapur SPPG. Bagi Vindi, susu merupakan minuman mahal yang hanya bisa dikonsumsi kaum bangsawan. Namun, ia merasa bangga ketika menikmati susu dalam Program MBG.

Program MBG Sasar SDN Tublopo 2

Kepala Sekolah SDN Tublopo 2 melalui Wali Kelas 4, Godefridus Manue Meko, S. Pd mengatakan, 70 orang siswa mengenyam pendidikan di SDN Tublopo 2. Meskipun kondisi sekolah tidak memungkinkan, semangat anak-anak datang ke sekolah tetap tinggi.

Sekolah tersebut berdiri pada 20 Juli 1990. Namun, mereka baru direlokasi ke bangunan sederhana itu sejak 8 Agustus 2018 lalu. Kehadiran Program MBG menjadi angin segar bagi sekolah ini. Siswa-siswi lebih ceria dan aktif mengikuti pelajaran.

Susu Jadi Salah Satu Menu Utama Program MBG

Dapur SPPG Kefamenanu Sasi 1, Antonia Padua Seran Tori menjelaskan, dalam Program MBG, menu yang disajikan memiliki kandungan protein hewani. Susu menjadi salah satu menu utama yang diberikan kepada anak-anak. Susu yang diberikan ini merupakan susu murni tanpa perasa atau gula tambahan.

Susu Sekolah yang diberikan kepada penerima manfaat memiliki kemasan aseptik. Kandungan susu ini antara lain protein 3 gram, serat 2 gram, dan zat besi 10 gram. Dapur SPPG ini melayani 2632 penerima manfaat, termasuk anak-anak sekolah, ibu hamil, dan bayi-balita.

Kandungan Protein pada Susu dalam Penyajian Makanan Program MBG

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, Pauyulia Alfira, SST menjelaskan, susu sangat penting dalam perkembangan anak. Protein dalam susu membantu pertumbuhan anak, baik fisik maupun otak. Ia menekankan bahwa susu harus diberikan kepada anak sampai usia sekolah bahkan menginjak usia 21 tahun.

Saat ini, Dinas Kesehatan Kabupaten TTU melakukan pengecekan dan pemantauan di lapangan untuk memastikan penyajian makanan Program MBG sesuai standar yang ditetapkan BGN. Program MBG sangat membantu Kabupaten TTU keluar dari masalah stunting yang selalu menjadi persoalan utama di wilayah perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse.

Wilayah Perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse

Kabupaten TTU terletak di lokasi strategis yang berbatasan langsung dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) Distrik Oecusse. Wilayah ini sering disebut sebagai kabupaten perbatasan atau masuk kategori wilayah 3T. Meskipun begitu, masyarakat di wilayah ini tidak menganggapnya sebagai penghalang untuk berinovasi dan berkarya.

Susu Kotak Pertama dalam Genggaman Anak-anak di Tapal Batas Negara

Angka stunting di Kabupaten TTU meningkat dari 38,7% pada tahun 2022 menjadi 47,3% pada tahun 2024. Program MBG menjadi salah satu upaya pemerintah menekan angka stunting. Pemda TTU berupaya menambah jumlah dapur demi mendorong cakupan konsumsi susu yang lebih baik.

Langkah-langkah ini diharapkan bisa meningkatkan produksi dan menekan harga susu sekaligus mendorong minat konsumsi susu yang tinggi di kalangan masyarakat khususnya anak-anak dan generasi muda demi menekan angka stunting.

(bbr)

Share This Article
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *