Dari Laporan ke UNICEF hingga Teror, Kronologi Kematian Anak SD di NTT oleh Ketua BEM UGM

admin
4 Min Read

Ketua BEM UGM Teror Setelah Mengangkat Kasus Kematian Anak SD ke Tingkat Internasional

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menjadi sorotan setelah mengambil langkah untuk menyuarakan kasus kematian seorang anak SD di Nusa Tenggara Timur. Kejadian ini menimbulkan empati nasional, namun di balik upaya memperjuangkan isu tersebut, Tiyo justru menjadi korban teror.

Awal Mula Peristiwa

Tiyo mulai menyuarakan tragedi itu melalui media sosial, dengan rasa prihatin atas ketimpangan akses pendidikan yang masih terjadi di Indonesia. Ia menilai kasus ini bukan sekadar peristiwa lokal, melainkan sinyal darurat tentang sistem yang tidak mampu melindungi warga paling rentan.

Tidak hanya berhenti pada unggahan di dunia maya, Tiyo kemudian mengirimkan surat resmi kepada UNICEF sebagai bentuk desakan moral agar kasus ini mendapat perhatian lebih luas. Dalam suratnya, ia menulis, “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?” atau dalam bahasa Indonesia, “Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena dia tidak mampu membeli pena dan buku?”

Teror yang Menghujani

Langkah Tiyo berujung pada kejadian tak terduga. Tak lama setelah surat dikirim, ia mengaku menerima pesan-pesan ancaman dan teror dari nomor tak dikenal. Isi pesan tersebut disebut bernada intimidatif, membuat kasus ini semakin ramai diperbincangkan publik.

Serangan digital sistematis berupa pesan ancaman berulang mulai menghujani ponsel Tiyo Ardianto sejak Senin (9/2/2026). Setidaknya enam nomor asing terpantau terus-menerus mencoba menghubungi Ketua BEM UGM tersebut, namun ia memilih untuk tidak merespons demi menjaga keamanan dirinya.

Tidak hanya di ranah digital, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM ini juga mengalami intimidasi fisik berupa penguntitan langsung oleh dua pria misterius bertubuh tegap. Kedua sosok tersebut dilaporkan sengaja membuntuti dan mengambil foto Tiyo dari kejauhan secara sembunyi-sembunyi. Saat berusaha dikejar untuk diidentifikasi, para penguntit tersebut langsung menghilang dengan cepat.

Reaksi DPR RI

Melihat ketua BEM UGM diteror usai mengirim surat aduan kepada UNICEF, DPR RI ikut buka suara. Hilman Mufidi, anggota Komisi X DPR RI, mengecam keras intimidasi yang menimpa aktivis mahasiswa tersebut. Bagi Hilman, intimidasi ini bukan sekadar ancaman personal, melainkan sebuah ancaman serius bagi kebebasan berpendapat.

“Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman,” kata Hilman.

Hilman menegaskan bahwa keberanian Tiyo dalam bersuara bukanlah sebuah pelanggaran, melainkan manifestasi nyata dari kebebasan berpendapat yang secara konstitusional sah dan dilindungi sepenuhnya oleh hukum di Indonesia.

Pertanyaan Besar

Peristiwa ini kini memunculkan pertanyaan besar: mengapa suara yang mencoba mengangkat persoalan kemanusiaan justru dibalas dengan ancaman? Di tengah gelombang simpati dan dukungan yang terus mengalir, kasus ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menyuarakan isu sosial terkadang datang dengan risiko yang tidak kecil.

Kronologi Teror Terhadap Ketua BEM UGM

Teror yang diterima oleh ketua BEM UGM Tiyo Ardianto ini bermula dari aksinya yang lantang bersuara soal kasus anak SD di NTT yang meninggal dunia akibat tak mampu membeli alat tulis yang harganya hanya Rp 10 ribu. Kepada UNICEF, Tiyo menulis surat yang berisi keresahannya terhadap masa depan anak bangsa.

Pesan ancaman berisi kata-kata seperti: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *