Gerakan Ayah Ambil Rapor Viral di Samarinda, Ini Isi Surat Edaran Wali Kota

Lani Kaylila
5 Min Read

Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) di Samarinda

Pemerintah Kota Samarinda meluncurkan Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) yang akan mulai berlaku pada Desember 2025. Gerakan ini bertujuan untuk mengatasi fenomena fatherless dan meningkatkan peran ayah dalam pendidikan anak. Dengan adanya GEMAR, para ayah yang terlibat akan diberikan dispensasi kerja, sementara sekolah dan media diminta mendukung kampanye ini.

Latar Belakang dan Tujuan Gerakan

Isu fatherless di Indonesia membutuhkan perhatian serius dan penanganan lintas sektor untuk mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Fenomena fatherless tidak hanya terjadi ketika ayah secara fisik tidak hadir, tetapi juga mencakup kurang terlibahnya ayah secara emosional, meskipun masih tinggal bersama keluarga. Berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) tahun 2025, didapati satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless sebesar 25,8 persen.

Ayah yang terlibat dalam pendidikan anak dan remaja membantu meningkatkan motivasi dan hasil belajar. Oleh karena itu, gerakan ini dirancang untuk memperkuat peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak sejak dini. Melalui kehadiran ayah pada momen penting tersebut, tercipta kedekatan emosional yang berpengaruh positif terhadap rasa percaya diri, kenyamanan, dan kesiapan anak dalam menjalani proses belajar.

Dasar Hukum

Gerakan ini didasarkan pada beberapa peraturan hukum, antara lain:
– Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
– Peraturan Presiden Nomor 180 Tahun 2024 tentang Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
– Surat Edaran Menteri Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga/ Kepala Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 14 Tahun 2025 Tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak Ke Sekolah.

Isi Surat Edaran

Beberapa poin utama dalam surat edaran ini adalah:
* Perangkat Daerah/Unit dan Instansi Pemerintah/Swasta
* Menghimbau bagi pegawai selaku ayah/wali ayah yang memiliki anak usia sekolah (Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah) untuk Mengambil Rapor Anak ke Sekolah pada waktu penerimaan rapor di akhir semester;
* Bagi pegawai selaku ayah/wali ayah yang mengikuti gerakan ini diberikan dispensasi keterlambatan sesuai dengan ketentuan masing-masing instansi atau kantor.
* Satuan Pendidikan Negeri/Swasta memfasilitasi pelaksanaan GEMAR dengan meningkatkan kualitas komunikasi antara pihak sekolah dengan orang tua, khususnya ayah/wali ayah untuk mendorong kehadiran ayah/wali ayah pada kegiatan pengambilan rapor yang dimulai pada bulan Desember 2025 dengan menyesuaikan jadwal pengambilan rapor di sekolah masing-masing.

  • Media Massa
  • Sebagai bentuk dukungan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) melalui pelaksanaan Mengambil Rapor Anak ke Sekolah, mendorong Perangkat Daerah/Unit, Instansi Pemerintah/Swasta, orang tua, dan media massa agar dapat mempublikasikan kegiatan GEMAR melalui media internal, media sosial, dan kanal komunikasi lainnya dengan menggunakan tagar #GATI, #GEMARSAMARINDA, #sekolahbersamaayah serta menandai akun instagram @kemendukbangga_bkkbn, @dithanrembkkbn, @gatikemendukbangga, @dppkbsamarinda.

Tanggapan Publik

Anjuran atau sosialisasi tersebut diunggah melalui Instagram resminya @pemkot.samarinda. Unggahan tersebut menuai berbagai respons pro dan kontra warganet. Beberapa netizen memberikan masukan bahwa himbauan masif juga harus disertai dengan solusi lain seperti cuti khusus bagi ayah, tanpa mempersulit. Namun, ada juga yang menyampaikan kekhawatiran bahwa gerakan ini bisa menjadi bahan olok-olok bagi anak-anak yang tidak memiliki ayah.

Beberapa komentar netizen antara lain:
* “Himbauan masif juga k instansi/perusahaan, agar aktif mendorong ayah pencari nafkah, bahkan dberi cuti khusus dgn dokumentasi bukti video. Tapi jangan juga, dorongan begini menjadi bahan olok2an bagi yg tidak punya ayah, ayahnya selingkuh, ayahnya meninggal dsb.”
* “Mungkin jadi salah satu cara agar ayah dan anak bisa habiskan waktu bersama, ya. Tapi, untuk mengurangi angka fatherless bukan hanya cara ini saja, masih perlu solusi lain misal jam kerja ayah yang bekerja, hak cuti dsb perlu diberikan tanpa dipersulit.”
* “Aku yatim jadi g bisa.”
* “Bahagia untuk yg punya ayah. Dan akan menyakiti hati anak yg tidak memiliki ayah !!”
* “Yang tdk punya bapak gimana ? Kenapa tdk di kasih kata ganti “Orang tua” saja jdi anak yatim/piatu bahkan yatim piatu tdk minder dan berkecil hati.”


Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *