Dampak Makanan Olahan Tinggi Gula pada Kesehatan Anak

Wahyudi
5 Min Read

Dampak Makanan Ultra Proses dan Tinggi Gula terhadap Kesehatan Anak

Di era modern seperti sekarang, anak-anak semakin mudah terpapar berbagai jenis makanan kemasan yang tampak menarik. Warna cerah, karakter lucu, hingga rasa manis dan gurih sering kali membuat anak sulit menolak. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat membentuk pola makan yang kurang sehat sejak dini.

Padahal, konsumsi makanan ultra proses dan tinggi gula secara berlebihan bisa memberikan dampak serius bagi kesehatan anak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu diketahui orangtua mengenai dampak makanan ultra proses dan tinggi gula terhadap kesehatan anak.

1. Anak Zaman Sekarang Mudah Terpapar Makanan Ultra Proses (UPF)



Ultra-processed food (UPF) atau makanan ultra proses adalah makanan yang telah melalui proses pengolahan berulang kali dan umumnya dijual dalam bentuk kemasan siap santap. Ketertarikan anak pada kemasan yang menarik membuat mereka lebih memilih makanan ini dibandingkan makanan segar di rumah.

Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat membentuk preferensi rasa sejak kecil, sehingga anak cenderung menolak makanan sehat seperti sayur, buah, dan lauk alami. Makanan ultra proses biasanya mengandung bahan tambahan yang tidak sehat dan memiliki kandungan nutrisi yang rendah.

2. Makanan Ultra Proses Umumnya Tinggi Gula dan Lemak



Hal yang perlu diperhatikan orangtua adalah makanan ultra proses umumnya mengandung gula dan lemak dalam jumlah tinggi. “Biasanya ultra proses tinggi gula dan tinggi lemak. Akibatnya, jika dimakan dalam kuantitas atau frekuensi sering dan terus-menerus, bisa membuat saluran pencernaan meradang atau bahasa kedokterannya inflamasi,” kata dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK.

Peradangan pada saluran cerna tidak boleh dianggap sepele. Kondisi ini dapat mengganggu penyerapan nutrisi penting yang dibutuhkan anak untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Jika terjadi terus-menerus, inflamasi juga dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

3. Inflamasi Usus Bisa Memengaruhi Mood dan Perilaku Anak



Tak hanya berdampak pada fisik, kesehatan pencernaan juga berkaitan erat dengan kondisi psikologis anak. “Perlu diingat, usus kita banyak sekali saraf. Kalau saluran pencernaan meradang, akibatnya timbul rangsangan ke otak, otak menimbulkan rangsangan ke mood serta perilaku. Jadi, kita harus memperhatikan apa yang dimakan anak. Kita harus mencegah timbulnya inflamasi pada sistem pencernaan anak,” ungkap dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK.

Rangsangan tersebut dapat memicu perubahan mood dan perilaku anak, seperti menjadi lebih mudah rewel, sulit fokus, atau emosional. Inilah alasan mengapa orangtua perlu lebih memperhatikan apa yang dikonsumsi anak setiap hari, sekaligus mencegah terjadinya inflamasi pada sistem pencernannya.

4. Contoh Makanan Ultra Proses yang Perlu Dibatasi Anak



Secara pengertian, UPF adalah jenis makanan yang telah melalui banyak tahapan pengolahan dan biasanya mengandung berbagai bahan tambahan, seperti gula, garam, lemak, pewarna, serta pengawet. Contoh yang paling sering dijumpai di sekitar anak antara lain:

  • Snack kemasan
  • Biskuit manis
  • Permen
  • Cokelat
  • Minuman manis
  • Sereal instan dengan rasa manis

Makanan ini memang praktis dan disukai anak, namun kandungan gizinya umumnya rendah. Selain camilan manis, makanan olahan seperti sosis, nugget, bakso instan, dan mi instan juga termasuk dalam kategori makanan ultra proses. Produk-produk ini sering kali tinggi natrium dan lemak jenuh, tetapi rendah serat dan vitamin.

Minuman juga menjadi sumber gula tersembunyi yang kerap luput dari perhatian orangtua. Minuman kemasan, susu rasa, teh manis siap minum, hingga jus dengan tambahan gula dapat menyebabkan asupan gula harian anak melebihi batas yang dianjurkan. Konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang berisiko memicu kenaikan berat badan, gigi berlubang, hingga gangguan metabolisme.

Meski demikian, bukan berarti anak sama sekali tidak boleh mengonsumsi makanan ultra proses. Kuncinya ada pada frekuensi dan porsi. Orangtua bisa membatasi konsumsinya dan menjadikannya sebagai makanan sesekali, bukan menu utama harian. Sebagai alternatif, Mama dapat menyiapkan camilan rumahan berbahan dasar buah, umbi, atau protein sederhana yang lebih kaya nutrisi dan tetap disukai anak.

Share This Article
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *