Lapas Kelas IIA Waingapu Tingkatkan Pembinaan Rohani dan Keterampilan Tahanan

Amanda Almeirah
3 Min Read

Pemberdayaan Warga Binaan di Lapas Kelas IIA Waingapu

Lapas Kelas IIA Waingapu terus berupaya memberdayakan warga binaan melalui berbagai program pembinaan. Kepala Lapas, Gidion ISA Pally, menyampaikan bahwa hingga saat ini terdapat 242 narapidana yang menjalani masa pidana di lapas tersebut. Pembinaan dilakukan dengan pendekatan yang berfokus pada penguatan iman, kesadaran hukum, serta pengembangan kemandirian melalui keterampilan dan usaha kreatif.

Pembinaan tersebut dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu tahap awal, lanjutan, dan akhir. Setiap tahapan dirancang untuk memastikan para narapidana siap kembali ke masyarakat tanpa mengulangi pelanggaran.

Tiga Tahap Pembinaan

Tahap awal dimulai setelah putusan hukuman diberlakukan. Di tahap ini, warga binaan akan menjalani masa admisi dan orientasi selama sebulan dengan pengamanan maksimum. Selama masa ini, mereka akan diberikan pembinaan tentang kesadaran beragama, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta kesadaran hukum. Mereka juga akan diajarkan kemampuan intelektual dasar.

Setelah melewati tahap awal, atau setengah dari masa pidana, narapidana akan masuk ke tahap lanjutan. Di tahap ini, mereka diberi kesempatan untuk meningkatkan keterampilan sesuai minat dan bakat masing-masing. Misalnya, di bidang pertanian, warga binaan memanfaatkan lahan kosong di sekitar lapas untuk menanam sayuran. Hal ini tidak hanya melatih keterampilan bertani, tetapi juga membantu mereka membangun kemandirian.

Masa Asimilasi dan Reintegrasi Sosial

Di tahap akhir, ketika para narapidana telah menjalani dua pertiga dari masa pidana, mereka akan masuk ke masa asimilasi. Pada tahap ini, mereka dapat bekerja mandiri, bekerja dengan pihak luar, dan bahkan melanjutkan pendidikan. Beberapa narapidana juga telah membuka usaha di luar lapas, seperti usaha pencucian mobil yang berada di lingkungan lapas.

Selain itu, mereka juga dilibatkan dalam kegiatan bakti sosial sebagai bagian dari reintegrasi sosial. Contohnya adalah membersihkan pemakaman umum menjelang hari raya keagamaan. Di lapas juga tersedia bengkel kerja, di mana narapidana yang memiliki bakat dan minat bisa belajar mebel, pertukangan kayu, batu, serta anyaman sebagai keterampilan tambahan.

Pendekatan Personal dan Budaya

Gidion ISA Pally menekankan pentingnya pendekatan personal dan budaya dalam menjalankan seluruh tahapan pembinaan. Menurutnya, pendekatan personal mampu menciptakan hubungan yang lebih dekat antara pimpinan dan warga binaan. Dengan begitu, akan tercipta keterbukaan dan kepatuhan terhadap aturan.

Pendekatan budaya juga diyakininya mampu menciptakan suasana harmonis dan saling menghormati di dalam lapas. Semua upaya ini dilakukan dengan moto semangat, kompak, dan terbaik.

Tujuan utama dari semua pembinaan ini adalah membentuk narapidana yang sadar hukum, berpartisipasi aktif di masyarakat, dan hidup mandiri. Gidion berharap, setelah keluar dari lapas, para narapidana dapat terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, baik dalam bidang kerohanian maupun lainnya. Mereka diharapkan bisa kembali ke keluarga dengan kemandirian dan kesadaran yang lebih tinggi.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *