Kembali Dibicarakan, Ajat Suderajat Terlibat Kontroversi Baru
Nama Ajat Suderajat kembali menjadi perbincangan setelah ia mengungkapkan keinginannya untuk meminta mobil dari Kapolres Metro Depok. Pernyataan tersebut menimbulkan reaksi keras dari publik, terutama karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi hidupnya yang sebenarnya.
Pengakuan yang Menyulut Kemarahan
Dalam acara Pagi-Pagi Ambyar yang tayang pada Kamis (29/1/2026), Ajat Suderajat secara terbuka menyampaikan bahwa dirinya ingin mendapatkan mobil dari Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Abdul Waras. Ia mengaku sedih karena hanya diberi motor sebagai bentuk permintaan maaf atas peristiwa penganiayaan yang dialaminya.
“Saya tadinya mau minta mobil, mobil buat jalan-jalan sama keluarga. Saya mau mobil, malah dikasih motor. Disetirin sama anak,” ujarnya.
Pernyataan ini membuat banyak orang merasa tidak puas, karena dianggap tidak sesuai dengan apa yang telah diterimanya dari berbagai pihak.
Ditegur Gubernur Jawa Barat
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, telah menegur Ajat Suderajat karena dianggap tidak jujur dalam menyampaikan keterangan tentang kehidupan pribadinya. Dedi menilai beberapa pernyataan Suderajat tidak sesuai dengan fakta yang ada.
Beberapa hal yang menjadi sorotan antara lain:
- Pendidikan Anak: Suderajat mengklaim anaknya bersekolah di sekolah dasar negeri, namun faktanya anaknya bersekolah di sekolah swasta.
- Tempat Tinggal: Ia mengaku mengontrak rumah, padahal ternyata memiliki rumah sendiri.
- Warisan: Suderajat menyebut hanya menerima warisan sebesar Rp 200 ribu dari orang tuanya, padahal faktanya orang tua Suderajat telah membelikan rumah untuknya sejak tahun 2007.
Dedi menegaskan bahwa kejujuran adalah kunci untuk memperbaiki kehidupan. “Babe ngebohong. Dia bilangnya saya dikasih warisan cuma Rp 200 ribu padahal dikasih rumah tahun 2007,” katanya.
Bantuan Tetap Mengalir Meski Ditegur
Meskipun merasa jengkel atas ketidakjujuran Suderajat, Dedi Mulyadi tetap menunjukkan empati. Ia bahkan menambahkan dana renovasi rumah untuk Suderajat yang kini mendapatkan program Rutilahu dari pemerintah daerah.
Dana tambahan tersebut dititipkan kepada Ketua RW yang memimpin proses renovasi rumah Suderajat. Dedi menilai bahwa Suderajat telah menerima bantuan yang sangat besar dari berbagai donatur, sehingga seharusnya disyukuri, bukan justru menimbulkan persoalan baru.
Ia pun kembali menasihati Suderajat agar mau berbenah diri jika benar-benar ingin keluar dari jerat kemiskinan.
Awal Perhatian Publik: Dugaan Penganiayaan
Perhatian publik terhadap Suderajat bermula dari peristiwa yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026), saat ia sedang berjualan di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Dalam peristiwa tersebut, Suderajat mengaku menjadi korban penganiayaan fisik dan intimidasi oleh oknum aparat TNI dan Polri.
Dengan nada emosional, ia menceritakan perlakuan yang diterimanya. “Saya (diperlakukan) kayak anjing. Kaki disuruh diangkat-angkat. Saya disabet, pakai selang air. Ada 10 orang yang menganiaya saya,” kata Suderajat, Selasa (27/1/2026).
Ia juga menyebut bahwa hingga saat itu, sebagian aparat yang terlibat belum menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
Kontroversi Es Gabus yang Memicu Segalanya
Kasus ini bermula dari laporan seorang warga ke call center 110 terkait dugaan es gabus yang dijual Suderajat mengandung Polyurethane Foam (PU Foam), bahan yang biasa digunakan untuk busa kasur atau spons cuci.
Video interogasi terhadap Suderajat kemudian beredar luas dan viral di media sosial. Dalam video tersebut, Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo menuding es gabus tersebut berbahaya bagi kesehatan, meskipun belum ada hasil uji laboratorium.
“Kenapa kamu jual?” tanya Heri kepada Suderajat dalam video tersebut.
“Kalau berhenti (jualan) anak bini makan apa?” jawab Suderajat.
“Ya kamu gimana, ini kalau dimakan sama anak-anak kecil ini bikin penyakit,” kata Heri dengan nada keras.
Menindaklanjuti laporan itu, Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya kemudian melakukan pemeriksaan terhadap seluruh barang dagangan Suderajat. Hasilnya, seluruh sampel es gabus, es kue, agar-agar, dan coklat meses dinyatakan aman dan layak dikonsumsi.
Meski hasil pemeriksaan telah keluar, polemik seputar Suderajat tak kunjung padam. Pernyataan demi pernyataan yang ia lontarkan justru membuat simpati publik perlahan berubah menjadi kekecewaan.