Nasib Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP yang Tolak Anak Jadi WNI, Ancaman Sanksi bagi Suami

Hartono Hamid
4 Min Read

Kontroversi yang Melibatkan Alumni LPDP dan Dampaknya pada Keluarga

Dwi Sasetyaningtyas, seorang alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), kini menjadi sorotan publik setelah menyampaikan pernyataan yang menimbulkan pro dan kontra. Ia mengungkapkan ketidakinginan untuk anaknya menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Perkataan ini memicu reaksi keras dari warganet dan mendapat perhatian pemerintah, terutama karena statusnya sebagai penerima beasiswa negara.

Pernyataan Dwi tersebut tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap suaminya, Aryo Iwantoro. Saat ini, Aryo terancam sanksi dari LPDP karena dugaan belum menyelesaikan kewajiban kontribusi sebagai penerima beasiswa. Hal ini memperluas polemik yang telah muncul sebelumnya.

Awal Mula Kontroversi

Kontroversi ini bermula dari Dwi yang membagikan konten di media sosial, khususnya Instagram dan Threads. Isi konten itu berkaitan dengan anak keduanya yang resmi menjadi Warga Negara Asing (WNA) Inggris. Dalam unggahan tersebut, ia menulis: “Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan paspor kuat WNA.” Ucapan ini menimbulkan kemarahan di kalangan netizen, yang merasa bahwa pernyataan tersebut tidak pantas dilontarkan oleh seorang awardee LPDP.

Profil Dwi Sasetyaningtyas

Dwi Sasetyaningtyas atau yang akrab disapa Tyas adalah lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia melanjutkan studi S2 di Delft University of Technology, Belanda, dengan fokus pada Sustainable Energy Technology. Beasiswa LPDP yang diterimanya digunakan untuk studi pada tahun 2015 dan ia lulus pada tahun 2017.

Selama masa pengabdian sebagai awardee, Tyas aktif dalam berbagai kegiatan sosial, seperti penanaman 10 ribu pohon bakau di pesisir pantai Indonesia. Ia juga membantu ibu rumah tangga untuk berpenghasilan dari rumah serta turut serta dalam penanggulangan bencana Sumatra dan pembangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tyas juga merupakan founder dari beberapa inisiatif seperti @sustaination, @ceritakompos, dan @bisnisbaikclub. Meskipun vokal dalam mengkritisi pemerintah, ia kembali ke Inggris untuk mendampingi suami yang bekerja sebagai konsultan periset di University of Plymouth.

Penjelasan Tyas dan Klarifikasi LPDP

Setelah pernyataannya viral, Tyas memberikan permintaan maaf melalui unggahan di media sosial. Ia menjelaskan bahwa ucapan tersebut adalah bentuk pelampiasan rasa kesal sebagai WNI terhadap kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak pro rakyat. “Jujur, kalo aku sih capek jadi WNI. Tapi sebagai penerima beasiswa uang rakyat, sudah seharusnya aku menyuarakan kepentingan rakyat,” tulisnya dalam konten tersebut.

LPDP memberikan klarifikasi dan teguran terkait polemik ini. Mereka menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh Tyas, yang dinilai tidak mencerminkan nilai integritas dan etika yang ditanamkan kepada seluruh penerima beasiswa. LPDP menyatakan bahwa Tyas telah menyelesaikan studi S2 dan masa pengabdian sesuai ketentuan. Namun, mereka tetap akan berupaya melakukan komunikasi dengan Tyas untuk mengimbau agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

Suami Terlibat dalam Polemik

Fakta baru muncul bahwa suami Tyas, Aryo Iwantoro, juga merupakan alumni LPDP. Informasi ini diketahui dari tesis yang ditulis oleh Aryo, yang menyebutkan terima kasih kepada pembiayaan LPDP. Selain itu, ada dugaan bahwa Aryo belum menyelesaikan kewajiban kontribusi sebagai awardee LPDP hingga 8 tahun lamanya.

LPDP saat ini sedang melakukan pendalaman internal terkait dugaan ini. Mereka juga akan memanggil Aryo untuk klarifikasi dan akan melakukan proses penindakan serta pengenaan sanksi sampai pengembalian dana apabila terbukti kewajiban berkontribusi belum dipenuhi.

Komitmen LPDP

LPDP berkomitmen untuk menegakkan aturan secara adil dan konsisten kepada seluruh awardee dan alumni. Mereka ingin terus menjaga integritas institusi dalam memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Indonesia.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *