Peningkatan Ketegangan di Laut Arab: Kapal Selam Nuklir Inggris Dikerahkan
Peningkatan ketegangan di kawasan Laut Arab telah memicu tindakan diplomatik dan militer dari berbagai pihak. Salah satu langkah terbaru adalah dikerahkannya kapal selam nuklir Inggris ke wilayah tersebut, yang dilakukan menjelang upaya rudal balistik Iran yang gagal menargetkan pangkalan militer utama AS-Inggris di Diego Garcia.
Kapal selam kelas Astute Angkatan Laut Kerajaan, yang diperkuat dengan rudal jelajah Tomahawk Block IV dan torpedo Spearfish, telah melakukan perjalanan sejauh 5.500 mil dari HMAS Stirling, dekat Perth, Australia, menuju Laut Arab pada awal Maret. Kapal selam ini beroperasi di bagian utara Laut Arab, sehingga memungkinkan Inggris untuk merespons secara cepat jika konflik meningkat.
HMS Anson, salah satu kapal selam yang dikerahkan, secara berkala muncul ke permukaan untuk menjaga komunikasi dengan Markas Besar Gabungan Permanen Inggris di London. Menurut laporan GB News, Anson biasanya bermarkas di Faslane, Skotlandia, tempat seorang pria Iran didakwa karena mencoba memasuki wilayah tersebut.
Pengerahan kapal selam ini terjadi setelah pemerintah Inggris memberikan izin kepada Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer Inggris dalam operasi pertahanan yang menargetkan kemampuan rudal Iran. Dalam pernyataannya, Downing Street menyatakan bahwa tujuan operasi tersebut adalah untuk “melemahkan lokasi dan kemampuan rudal” yang digunakan dalam serangan terhadap kapal, sambil menekankan bahwa Inggris tidak ingin terlibat dalam konflik regional yang lebih luas.
Upaya Rudal Balistik Iran yang Gagal
Ketegangan meningkat pada hari Minggu setelah Iran meluncurkan dua rudal balistik ke arah Diego Garcia, menurut beberapa laporan. Kedua rudal tersebut tidak mencapai sasarannya; satu dilaporkan gagal dalam penerbangan, sementara yang lainnya berhasil dicegat. Upaya serangan tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang jangkauan rudal Iran, mengingat Diego Garcia berjarak sekitar 2.485 mil dari Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi telah memperingatkan Inggris agar tidak mendukung aksi militer AS atau Israel. Ia menyatakan bahwa keterlibatan tersebut dapat semakin memperparah konflik. Menurut laporan BBC, Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper mengkritik pendekatan “negatif dan bias” dari Inggris dan menuntut agar Inggris menghentikan kerja sama dengan Amerika Serikat.
Tindakan Militer Iran Terhadap Pesawat Tempur
Di tengah peningkatan ketegangan, militer Iran mengklaim telah menembak jatuh jet tempur F-15 musuh di Teluk Arab, tepatnya di dekat Pulau Hormuz. Dalam pernyataan yang dirilis, Angkatan Darat Republik Islam Iran mengatakan bahwa Komando Pertahanan Udara Gabungan telah mencegat dan menembakkan rudal darat ke udara hingga mengenai jet tempur musuh di dekat Pulau Hormuz beberapa jam lalu. Investigasi sedang dilakukan untuk mengetahui nasib pesawat F-15 tersebut.
Selain itu, Iran juga dilaporkan menembak jatuh jet tempur F-35 Amerika pada 19 Maret 2026. Pesawat tersebut dilaporkan mendarat darurat di pangkalan udara AS di Timur Tengah. Juru Bicara Komando Pusat AS, Kapten Tim Hawkins, menyatakan bahwa pesawat mendarat dengan selamat, dan pilot dalam kondisi stabil.
Ancaman Trump dan Balasan Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan mentoleransi penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur energi dunia. Ia menuntut agar Iran membuka sepenuhnya Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika Iran tidak merespons, Trump mengancam akan menyerang fasilitas energi vital negara tersebut.
Unit komando operasional tertinggi Iran telah memperingatkan akan adanya pembalasan jika infrastruktur bahan bakar dan energi Teheran diserang AS-Israel. Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, yang mengoordinasikan operasi antara Angkatan Darat Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengeluarkan peringatan tersebut setelah Amerika Serikat mengancam akan menargetkan pembangkit listrik Iran.
Operasi Pertahanan di Wilayah Laut Arab
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan bahwa aset Angkatan Udara Kerajaan, termasuk jet Typhoon, tetap terlibat dalam operasi pertahanan di wilayah tersebut. Pasukan Inggris juga telah membantu menangkal ancaman pesawat tak berawak Iran sambil berkoordinasi erat dengan sekutu.