Tak Pernah Menyerah, Kisah Khansa Membangun Yeay Yummy Dessert Sejak SMA

Ratna Purnama
5 Min Read



Di tengah keramaian Alun-Alun Kidul, lapisan demi lapisan mille crepes tersusun rapi. Tekstur lembut mille crepes, tiramisu cake, dan mochi menjadi bagian dari perjalanan awal Yeay Yummy Dessert. Pada awalnya, lapisan-lapisan ini dianggap terlalu biasa. Beberapa orang menilai rasanya tidak sepadan, sementara yang lain membandingkannya dengan dessert lain yang lebih dulu dikenal. Di tengah komentar-komentar tersebut, Khansa memilih diam dan melanjutkan prosesnya.

Berawal dari sekadar iseng untuk mengisi libur sekolah, siapa sangka Khansa, seorang pelajar SMA kala itu, berhasil membangun usaha dessert yang kini digemari banyak orang. Khansa memulai perjalanan usahanya pada tahun 2022, tepat saat ia masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Ia mendirikan Yeay Yummy Dessert dengan konsep sederhana, menjual makanan penutup yang sedang viral. Ide itu muncul ketika ia melihat tren slice cake yang ramai di media sosial, khususnya TikTok. “Awalnya iseng aja mau buka usaha tapi bingung usaha apa. Waktu itu di TikTok lagi viral slice cake, akhirnya aku coba aja usaha itu”, ujar Khansa.

Dengan modal terbatas dan pengalaman yang minim, Khansa memulai usahanya secara sederhana. Ia membeli kue tart utuh, memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu menjualnya kembali di kawasan Alun-Alun Kidul (Alkid). Meski terkesan sederhana, langkah kecil itu menjadi pijakan awal dari usaha yang kini terus berkembang. “Awalnya beli kue tart, terus dipotong-potong kemudian dijual lagi per slice,” jelas Khansa.

Seiring waktu, tren slice cake kembali bergeser. Mille crepes mulai viral dan menarik perhatian Khansa. “Sebenernya kita ngikutin tren aja sih,” ujar Khansa dengan singkat. Tidak ingin bergantung pada usaha orang lain, ia memutuskan untuk memproduksi mille crepes sendiri. Keputusan ini menjadi titik balik sekaligus tantangan besar. Proses produksi tidak berjalan mulus, banyak percobaan gagal, rasa yang belum konsisten, hingga tampilan yang jauh dari ekspektasi. Tantangan tak berhenti di dapur. Saat produk diunggah ke media sosial, Khansa justru menerima banyak kritik. Mulai dari rasa yang dinilai kurang sesuai, harga yang dianggap tidak sepadan, hingga perbandingan dengan produk lain yang disebut lebih enak. “Dulu tuh prosesnya ga mudah, ada trial and erornya juga. Waktu aku posting ke sosial media juga awal-awal banyak yang hujat katanya harga dan rasanya ga sesuai, banyak yang lebih enak daripada ini,” tutur Khansa sembari memasukkan potongan tiramisu cake ke dalam sterofoam. Namun, alih-alih menyerah, Khansa memilih untuk mengevaluasi diri.

Ia mencari solusi dengan mengganti bahan-bahan produksi ke kualitas yang lebih premium. Keputusan ini tidak mudah karena berarti biaya produksi yang lebih tinggi. Namun hasilnya sepadan. Rasa mille crepes, tiramisu cake, dan mochi buatannya menjadi lebih lezat dan mulai mendapat respons positif dari pelanggan. “Ga kepikiran buat nyerah, tapi aku nyari solusinya biar bisnis ini tetap bertahan. Aku coba aja ganti bahannya pake yang lebih premium dan ternyata jadi lebih enak dan banyak yang suka,” ungkap Khansa.

Perlahan, Yeay Yummy Dessert semakin dikenal. Penjualan meningkat dan omzet yang didapat bahkan melampaui ekspektasi awal Khansa. Dari usaha kecil yang dibangunnya, kini ia mulai merekrut karyawan untuk membantu proses produksi dan penjualan.

Perkembangan Yeay Yummy Dessert juga beriringan dengan perubahan peran Khansa. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswi semester 3 jurusan pendidikan. Di tengah kesibukan akademik, ia tetap berupaya menjaga keberlangsungan usahanya dengan membagi waktu secara disiplin. Menurutnya, menjalankan usaha sembari kuliah tetap menjadi tantangan, terutama dalam membagi waktu antara akademik dan bisnis. Namun, pengalaman berwirausaha sejak SMA membuatnya lebih siap menghadapi ritme tersebut. Ia terbiasa menyusun prioritas dan mengambil keputusan sejak usia muda. Bagi Khansa, dunia usaha telah menjadi ruang belajar yang berjalan beriringan dengan pendidikan formalnya.

Yeay Yummy Dessert bukan hanya tentang mille crepes dan tiramisu, tetapi juga tentang keberanian mencoba, jatuh, lalu bangkit kembali. Ia belajar menghadapi kegagalan, menerima kritik, serta membangun konsistensi dalam jangka panjang. Ia menilai bahwa fase sulit di awal usaha justru menjadi fondasi penting. Kritik dan perbandingan dengan produk lain mendorongnya untuk terus berbenah, bukan menyerah.

Ke depan, Khansa berharap Yeay Yummy Dessert dapat terus berkembang dengan tetap menjaga kualitas produk. Ia juga ingin usahanya menjadi contoh bahwa anak muda memiliki peluang besar untuk terjun ke dunia wirausaha, selama berani mencoba dan mau belajar dari proses.

Perjalanan Yeay Yummy Dessert menunjukkan bahwa membangun usaha bukan semata soal mengikuti tren, tetapi tentang ketekunan dalam menghadapi perubahan. Dari lapisan demi lapisan mille crepes yang terus disempurnakan, tersimpan cerita tentang konsistensi dan keberanian seorang anak muda dalam membangun masa depan.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *