Mojtaba Khamenei, Kandidat Terkuat untuk Pemimpin Tertinggi Iran
Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Ali Khamenei yang gugur dalam serangan gabungan AS-Israel, menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan posisi pemimpin tertinggi Iran. Menurut laporan berbagai sumber, Iran mengisyaratkan bahwa Mojtaba Khamenei mungkin akan menggantikan ayahnya setelah pemimpin yang telah lama berkuasa itu tewas dalam konfrontasi yang memicu krisis kepemimpinan di Teheran dan meningkatkan perang regional.
Ali Khamenei, yang menjabat sebagai pemimpin Iran sejak 1989, dibunuh pada tahap awal meningkatnya ketegangan antara Iran dan aliansi AS-Israel. Serangan tersebut memicu krisis politik dan militer di kawasan Timur Tengah. Perang ini tidak hanya melibatkan Iran dan negara-negara Barat, tetapi juga telah menyebar ke wilayah lain seperti Irak, Bahrain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, dan Lebanon.
Mojtaba Khamenei, seorang ulama tingkat menengah dengan hubungan dekat dengan Garda Revolusi Iran, telah lama dianggap oleh kelompok garis keras sebagai kandidat utama untuk posisi pemimpin tertinggi. Meskipun belum ada pengumuman resmi dari badan yang bertugas memilih pemimpin berikutnya, isu ini semakin menghangat karena situasi kritis yang terjadi di Iran.
Perebutan suksesi terjadi di tengah peningkatan ketegangan antara Iran dan para rivalnya. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington harus ikut campur dalam pemilihan pemimpin Iran di masa depan. Ia memperingatkan bahwa keputusan tersebut akan memiliki dampak serius bagi kawasan.
Menurut konstitusi Iran, Majelis Pakar, sebuah badan keagamaan beranggotakan 88 orang, bertanggung jawab untuk memilih pemimpin tertinggi negara setelah pemimpin petahana meninggal dunia. Pengalihan kepemimpinan ini terjadi di tengah salah satu krisis Timur Tengah paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir, dengan pertukaran militer antara Iran dan para musuhnya yang mengancam akan menyeret negara-negara lain ke dalam krisis yang semakin memburuk.
Para ulama Iran mengisyaratkan segera mengumumkan pemimpin baru pengganti Ayatollah Ali Khamenei. Dalam beberapa hari terakhir, berbagai pernyataan dari tokoh-tokoh penting seperti Mohammad Mehdi Mirbagheri dan Ahmad Alamolhoda memberikan indikasi bahwa proses pemilihan sudah hampir selesai. Mirbagheri menyebutkan bahwa penunjukkan pengganti harus dilakukan secara hati-hati agar tidak ada penolakan di internal mereka.
Sementara itu, Ahmad Alamolhoda, tokoh terkemuka di Majelis Pakar, menyatakan bahwa pemimpin telah dipilih dan sekretariat Majelis Pakar harus segera mengumumkan hasilnya. Ia menegaskan bahwa semua rumor tentang belum adanya keputusan adalah kebohongan belaka. Semua kini bergantung pada sekretaris Majelis Pakar, Ayatollah Hosseini Bushehri, yang berkewajiban untuk mengumumkan keputusan kepada publik.
Badan yang beranggotakan 88 orang tersebut memiliki wewenang untuk menunjuk pemimpin baru Iran. Berdasarkan Pasal 111 Konstitusi Iran, apabila pemimpin tertinggi Iran wafat atau tak lagi mampu memimpin, para ahli harus menunjuk pemimpin baru sesegera mungkin.
Abbas Kaabi, seorang anggota senior Dewan Penjaga Konstitusi, mengungkap bahwa Khamenei tidak memberi nama untuk dipertimbangkan menjadi calon pemimpin tertinggi Iran berikutnya. Ia hanya memberikan kriteria-kriterianya, termasuk kesalehan finansial yang menjadi hal terpenting. Kaabi juga mengungkap pernyataan Khamenei soal kriteria pemimpin masa depan Iran, yaitu keyakinan yang teguh pada prinsip-prinsip dasar revolusi Islam, memiliki wawasan tentang musuh, serta anti-kesombongan dan perlawanan terhadap Amerika dan rezim Zionis.
Respons Donald Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan respons terhadap langkah Iran yang akan segera mengumumkan pemimpin tertinggi baru. Ia berjanji akan memberikan pengaruh atas siapa yang dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya. “Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami,” kata Trump. “Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” lanjutnya.
Trump menambahkan bahwa ia tidak ingin pemerintahan Iran ke depan kembali ke masa lalu. “Saya tidak ingin orang-orang harus kembali dalam lima tahun dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi, membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” katanya.
Konflik AS-Israel dan Iran
Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Menghadapi serangan tersebut, Iran melakukan balasan dengan meluncurkan rudal ke sejumlah Pangkalan Militer AS yang ada di kawasan Timur Tengah.
Dampak dari perang AS-Israel Vs Iran kini meluas dan merembet terhadap pasokan energi dunia. Pasokan energi seperti minyak dan LNG dunia saat ini terganggu setelah Iran menutup Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi dari wilayah Timur Tengah ke Asia, Afrika, dan Eropa.
Tak hanya itu, buntut serangan AS-Israel ke Iran, penerbangan ke sejumlah wilayah Timur Tengah pun terganggu.