AWK Minta Maaf Atas Penyebaran Konten Hoax

Zaiful Aryanto
9 Min Read

, DENPASAR

—Perhimpunan Jurnalis PENA NTT Bali mengunjungi Kantor DPD RI Perwakilan Bali untuk melakukan audiensi terkait unggahan ulang (repost) berita yang dinilai tidak terverifikasi dan merugikan profesi jurnalis.

Kedatangan puluhan wartawan tersebut bertujuan menyerahkan surat secara resmi kepada anggota DPD RI BALI, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna atau Arya Wedakarna beserta tebusan ke DPD RI. Dalam kedatangan itu, dipimpin langsung Ketua Umum PENA NTT Agustinus Apllonaris Klasa Daton didampingi Ketua Penasehat PENA NTT Emanuel Dewata Odja serta pengurus PENA NTT dan diterima langsung Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna.

Dalam kesempatan itu, kedua belah pihak berlangsung melakukan pertemuan dan dialog lantai dua Kantor DPD RI Bali. Ketua Penasehat PENA NTT Emanuel Dewata Odja atau disapa Edo menyampaikan kedatangan ini bentuk respon terhadap menyusul unggahan akun Instagram Arya Wedakarna me-repost berita dari akun instagram @kuatbacacom terkait kasus dugaan pemerkosaan WNA di Bali.

Menurutnya, dalam unggahan tersebut turut ditampilkan foto seorang jurnalis Kompas.com berinisial YS alias VSG yang merupakan anggota PENA NTT Bali. Di mana foto yang ada di dalam postingan tersebut memuat judul “Sekuriti di Bali Perk40s WN Australia di Kamar Mandi Tempat Hiburan” dan menampilkan foto jurnalis Kompas.com sebagai pelaku. Hal itu dinilai merugikan dan berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap yang bersangkutan.

“Meskipun bapak Arya Wedakarna tadi mengatakan sudah take down berita tersebut tapi jelas jejak digital masih melekat. Untuk itu kami hadir hari ini bersurat kepada Bapak,” tegasnya. Edo menambahkan kedatangan ini juga bagian dari pemberian edukasi agar akun medsos seorang pejabat publik wajib melakukan verifikasi kebenaran pemberitaan sebelum me-repost.

Kekeliruan dalam menyampaikan pemberitaan mempengaruhi opini publik dalam menanggapi pemberitaan. “Karena Bapak adalah pejabat publik, tentunya mempunyai akun medsos yang besar, untuk itu kami ingin akun besar itu wajib menampilkan cara menyampaikan informasi sesuai dengan cara bermedi sosial yang besar,” tuturnya.

Ketua PENA NTT Bali, Agustinus Aporonaris Kadaton membacakan surat kecaman dengan point-point sebagai berikut:

  1. PENA (Perhimpunan Jurnalis) NTT – Bali adalah wadah berhimpun 50 orang warga Bali asal NTT, yang berprofesi sebagai wartawan dan bekerja di berbagai platform MEDIA PERS, baik media Ctak, Elektronik dan online/ media siber seluruh Bali.
  2. Wartawan Kompas.Com berinisial VSG yang fotonya diposting akun IG bernama ‘aryawedakarna’ adalah anggota PENA NTT-Bali.
  3. PENA NTT Bali, MENGECAM KERAS tindakan ceroboh anggota DPD RI Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna atau AWK yang tanpa hak, tanpa verifikasi mentransmisi informasi palsu yang merugikan wartawan Kompas.Com berinisial VSG.

Menindaklanjuti hal tersebut, PENA NTT – Bali mendesak pemilik akun IG bernama ‘aryawedakarna’ yakni anggota DPD RI Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna atau AWK untuk:

  1. Dalam waktu 1 x 24 jam, segera melakukan klarifikasi kepada publik melalui akun IG (Medsos) bernama ‘aryawedakarna’ bahwa tindakan memposting ulang berita media online kuatbaca.com (@kuatbaca) adalah tindakan ceroboh, karena tidak melakukan verifikasi sebelum berita ditayangkan.
  2. Meminta maaf secara terbuka kepada Wartawan Kompas.Com berinisial VSG dan kepada seluruh anggoa PENA NTT-Bali atas kecerobohan yang telah dilakukan.

Dalam rilis kronologi dari VSG wartawan Kompas.com kejadian bermula Pada Jumat 27 Maret 2026 pukul 10.00 Wita, YS, wartawan Kompas.Com pergi meliput kegiatan konferensi pers pengungkapan kasus kekerasan seksual di Polda Bali. Kemudian, bahan konferensi pers itu kemudian ditulis dengan judul “Sekuriti di Bali Perkosa WN Australia di Kamar Mandi Tempat Hiburan”. Artikel dan foto konferensi pers ini kemudian dikirim ke Kompas.com lalu diedit oleh editor Aloysius Gonsaga AE dan ditayangkan sekitar pukul 12.12 WIB. Naskah berita tersebut kemudian terbit di kanal Kompas.Com.

Lalu, pada Sabtu 28 Maret 2026, sekitar pukul 16.30 Wita, YS kembali melakukan peliputan konferensi pers di Loby Polda Bali. Pukul 17.13 Wita, dirinya mendapat kabar bahwa akun instagram @kuatbacacom mengunggah berita terkait kasus pemerkosaan WN Australia dengan judul dan narasi pemberitaan yang mirip dengan artikel yang tayang di Kompas.com. Dalam postingan @kuatbacacom terpampang foto profil YS yang tertera di website Kompas.com. Foto tersebut diedit dengan cara dicoret hitam pada bagian mata dan diberi lingkaran oranye. Padahal foto tersebut merupakan profil penulis wartawan Kompas.Com yang dilengkapi dengan profil lengkap YS sebagai wartawan yang bekerja di bawah perusahaan media pers Kompas.Com. Namun, akun @kuatbacacom mengambil tangkapan layar foto tersebut lalu disiarkan secara luas, membingkai seolah-olah foto YS sebagai pelaku pelecehan seksual. Postingan tersebut pun mendapat komentar bernada bullying dan rasisme dari warga net.

“Setelah melihat dan membaca konten serta komentar warganet, mental saya langsung down dan tidak bisa lagi bekerja. Ini fitnah keji terhadap saya,” kata YS. Serangan terhadap pribadi YS bertambah dengan munculnya postingan akun anggota DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna atau Arya Wedakarna, @aryawedakarna yang memposting ulang postingan akun @kuatbaca sekitar pukul 18.55 Wita. Postingan akun AWK ini memberi caption: “kira-kira orang dari mana pelakunya ya…”. Pada postingan AWK ini juga secara khusus menampilkan foto profil di kompas.com yang sudah diedit akun @kuatbaca.

“Di akun AWK ini, saya kembali mendapat komentar yang sangat rasialis,” kata YS. Setelah muncul postingan tersebut, istri YS mencoba menghubungi staf AWK untuk menghapus postingan tersebut, memberikan permohonan maaf secara pribadi dan memberikan klarifikasi secara terbuka serta memberikan informasi yang sebenarnya kepada publik agar nama baik YS dipulihkan. DM dari istri korban sudah tersampaikan kepada staf AWK, namun tidak segera menghapus postingan tersebut dan tidak kunjung melakukan klarifikasi. Barulah setelah beberapa jam kemudian postingan tersebut dihapus tanpa penjelasan dan permohonan maaf kepada YS.

Sementara itu, Arya Wedakarna (AWK) ketika ditemui usai pertemuannya dengan Pena NTT mengatakan permasalahan mengenai repost ini sudah selesai dan pihaknya sudah diberikan surat koordinasi. Terdapat dua tuntutan yang pertama permintaan klarifikasi dan telah dijawab bahwa sebenarnya tim adminya AWK ini me-repost berita dari kuat baca.com.

“Bahkan tadi saya dapat info bahwa dari pihak beliau akan melaporkan kuat baca ke Dewan Pers dan juga Polisi. Kemudian kedua jangan sampai permasalahan ini mengaburkan substansi dari UU Pengawasan DPD untuk masalah ada WNA yang diperkosa,” jelas, AWK. Lebih lanjutnya, AWK mengatakan terdapat 3-4 kejadian pidana yang terjadi di wilayah hukum Provinsi Bali yang menurutnya merupakan kewenangannya untuk pengawasan.

“Dari tim admin tadi sudah klarifikasi hanya me-repost saja tidak ada menyebutkan nama suku apapun tetapi tadi masukan dari Pena NTT bagus termasuk juga dari istri wartawan kompas.com istrinya sudah datang dan memberikan info ke kami,” bebernya. AWK mengatakan telah sepakat dengan Pena NTT bahwa ada SOP yang perlu dirubah, kedepan jika ada berita terkait akan dilakukan konfirmasi kembali dan klarifikasi kembali kemudian termasuk poin kedua secara terbuka AWK telah sampaikan permintaan maaf kalau ada kegaduhan.

“Captionnya secara hukum tidak menyebutkan dari apapun kalau interprestasinya siapapun kan boleh saja, AWK kan tegas saja kalaupun orang Bali berbuat salah kan kita harus hukum sering kok dari warga Bali lakukan perkelahian kriminal korupsi termasuk dugaan laporan saya ke kejaksaan tentang semeton kita bermasalah bidang pidana tetap kita up, kita adil saja. Saya sudah baca berkali-kali tidak ada menyebutkan suku apapun, hati-hati saja kita mulat sarira saja saya sudah tegur tim admin karena tim admin AWK ada di Jakarta dan Bali, nanti ada SOP perubahan masukannya bagus sekali,” pungkasnya.

Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *