Serangan Hizbullah terhadap Israel dan Kekacauan di Wilayah Perbatasan
Serangan yang dilakukan oleh kelompok Hizbullah terhadap Israel menciptakan kericuhan besar di wilayah perbatasan antara Lebanon dan Israel. Dalam rangkaian serangan yang berlangsung selama sekitar enam jam, Hizbullah menggunakan drone peledak dan rudal untuk menyerang tentara dan markas militer Israel. Serangan ini dimulai pada hari Kamis (9/4/2026) pukul 20.45 waktu setempat dengan menargetkan kerumunan tentara Israel di situs Al Marj. Selanjutnya, Hizbullah terus melancarkan serangan hingga pukul 02.15 dini hari pada Jumat (10/4/2026), menggempur markas militer Israel.
Selain itu, wilayah perbatasan juga menjadi sasaran dari rudal jarak jauh yang diluncurkan dari Lebanon. Ledakan yang terjadi di sejumlah wilayah perbatasan memperlihatkan dampak signifikan dari serangan tersebut. Meskipun gencatan senjata telah diumumkan, serangan masih berlanjut hingga dini hari tanggal 8 April 2026. Iran disebut tetap meluncurkan rudal balistik ke Israel, sementara Israel terus membombardir target militer Iran sebelum akhirnya menghentikan operasi.
Serangan Rudal Balistik Iran ke Israel
Sebelum serangan Hizbullah, Iran meluncurkan sekitar 650 rudal balistik ke Israel. Menurut laporan militer, lebih dari setengah rudal tersebut membawa hulu ledak bom tandan yang menyebarkan bom-bom kecil secara sembarangan di area yang luas. Serangan ini menewaskan 20 warga sipil Israel dan warga negara asing di Israel, serta empat warga Palestina di Tepi Barat. Lebih dari 7.000 orang di Israel terluka akibat serangan ini.
Kampanye militer Israel-AS yang berlangsung selama 40 hari dimulai pada 28 Februari 2026, dan kini tepat setelah gencatan senjata mulai berlaku Rabu pagi, terungkap bahwa tujuan utamanya adalah melemahkan kemampuan militer Iran. Termasuk program nuklir dan rudal balistik, serta mendorong perubahan rezim.
Persyaratan Iran untuk Negosiasi
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negosiasi dengan pihak-pihak terkait konflik regional tidak dapat dimulai tanpa terpenuhinya dua prasyarat utama. Yaitu penerapan gencatan senjata di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang diblokir. Ghalibaf menilai bahwa tanpa implementasi konkret di lapangan, pembicaraan hanya akan bersifat simbolis dan tidak menghasilkan solusi nyata.
Iran juga menekankan bahwa isu Lebanon tidak bisa dipisahkan dari kerangka negosiasi yang lebih luas. Mereka memandang situasi di Lebanon sebagai bagian integral dari stabilitas kawasan, sehingga gencatan senjata di wilayah tersebut menjadi syarat mutlak yang tidak dapat ditawar. Sumber yang dikutip menyebutkan bahwa Iran juga telah menyampaikan posisi ini kepada mediator internasional, termasuk melalui berbagai jalur diplomatik.
Permintaan Iran untuk Penghentian Total Agresi
Iran menegaskan bahwa setiap langkah menuju gencatan senjata harus mencakup penghentian total agresi di seluruh kawasan, bukan sekadar jeda sementara dalam konflik. Melalui proposal 10 poin yang diajukan kepada mediator internasional, Teheran menuntut diakhirinya seluruh operasi militer oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel. Termasuk serangan terhadap Iran, sekutunya, serta wilayah Lebanon.
Proposal tersebut juga menekankan pentingnya jaminan bahwa tidak akan ada serangan lanjutan setelah gencatan senjata diberlakukan. Iran bahkan menyatakan bahwa mereka tidak akan menerima kesepakatan gencatan senjata apa pun sebelum seluruh paket proposal tersebut diakui secara resmi, termasuk oleh AS dan Presiden Donald Trump.
Penolakan Israel terhadap Gencatan Senjata
Di sisi lain, Israel kembali membuat ulah dengan menyatakan keenganannya untuk melakukan gencatan senjata dengan Hizbullah di Lebanon. Padahal, Amerika Serikat (AS) dengan Iran bakal melakukan perundingan damai di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) hari ini. Pemerintah Israel secara tegas menolak opsi gencatan senjata dengan Hizbullah dan memilih untuk terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pasukannya tidak akan menarik diri atau menghentikan serangan dalam waktu dekat. Bagi Israel, diplomasi dan aksi militer adalah dua jalur yang berjalan beriringan. Mereka bersedia bicara dengan pemerintah Lebanon, namun di saat yang sama, bom-bom Israel tetap akan menyasar posisi-posisi Hizbullah.
Ancaman Iran Menjelang Perundingan
Menjelang pertemuan dengan AS di Ibu Kota Pakistan, Islamabad, Iran melontarkan ancaman keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan posisi negaranya bahwa diskusi tidak bisa melangkah lebih jauh jika aset-aset Iran yang dibekukan belum cair. Tak hanya itu, Iran menuntut jaminan keamanan dan gencatan senjata di Lebanon sebagai paket kesepakatan.
Pernyataan ini menjadi sandungan besar, mengingat Israel dan AS dikabarkan ingin memisahkan isu konflik Lebanon dari pembahasan utama dengan Iran. Bagi Teheran, kedua isu tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa ditawar. Delegasi AS yang dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance tiba dengan pengamanan super ketat. Vance membawa misi besar untuk mengakhiri perang enam minggu yang melanda kawasan tersebut.