WASHINGTON DC,
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menunjukkan ketertarikannya untuk menguasai Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah yurisdiksi Denmark. Meski rencana ini sering ditolak oleh pihak Denmark dan Uni Eropa, Washington tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dari keinginannya tersebut.
Dalam pertemuan tertutup dengan anggota parlemen AS pada Senin (5/1/2026), Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan bahwa Trump lebih memilih membeli Greenland daripada melakukan invasi militer. Pernyataan ini disampaikan dalam forum yang dihadiri oleh anggota komisi angkatan bersenjata dan kebijakan luar negeri AS.
Berapa Harga Greenland?
Hingga saat ini, belum ada kerangka kerja global yang bisa digunakan untuk menentukan nilai suatu wilayah. “Tidak ada pasar untuk membeli dan menjual negara,” ujar Kepala Ekonom ABN AMRO Belanda, Nick Kounis, dikutip dari Reuters, Jumat (9/1/2026).
Ia menjelaskan, menilai harga Greenland berdasarkan tolok ukur historis juga bukan hal yang mudah dilakukan. Pada 1946, AS pernah menawarkan 100 juta dolar AS untuk membeli Greenland dari Denmark, namun tawaran itu ditolak. Jika disesuaikan dengan inflasi saat ini, nilainya diperkirakan setara dengan 1,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 27 triliun.
Namun, angka tersebut dinilai sudah tidak relevan karena perubahan signifikan dalam perekonomian AS dan Denmark selama delapan dekade terakhir. Beberapa contoh akuisisi wilayah oleh AS, seperti pembelian Louisiana dari Perancis seharga 15 juta dolar AS pada 1803, atau pembelian Alaska dari Rusia senilai 7,2 juta dolar AS pada 1867, tidak dapat dibandingkan dengan kasus Greenland. Pasalnya, baik Perancis maupun Rusia saat itu secara sukarela melepas wilayah tersebut, berbeda dengan Denmark yang bersikukuh mempertahankannya.
Jika Greenland Dianggap Perusahaan
Bank sentral Denmark mencatat, Produk Domestik Bruto (PDB) Greenland pada 2023 hanya 3,6 miliar dolar AS, sebagian besar berasal dari sektor perikanan. Sebagai perbandingan, angka tersebut hanya sepersepuluh dari PDB Islandia, negara kecil lain di kawasan Arktik.
Meskipun Trump membantah AS membidik sumber daya mineral dan energi Greenland, laporan Reuters pada Oktober 2025 menyebutkan adanya pembahasan untuk mengambil saham di Critical Metals Corp, perusahaan yang merancang proyek logam tanah jarang terbesar di Greenland. Cadangan sumber daya mineral dan energi di pulau tersebut diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar AS atau lebih.
Hasil survei geologi 2023 menemukan bahwa Greenland memiliki 25 dari 34 jenis mineral yang dinilai penting oleh Komisi Eropa. Namun, upaya penambangan di wilayah ini menghadapi sejumlah tantangan besar. Pertambangan minyak dan gas saat ini dilarang di Greenland atas dasar pertimbangan lingkungan. Selain itu, pengembangan sektor pertambangan kerap terhambat oleh birokrasi yang kompleks dan penolakan dari komunitas masyarakat lokal.
Tantangan dalam Penguasaan Wilayah
Perlu dicatat bahwa kesepakatan dalam sektor pertambangan dan energi tidak mencakup aspek pengalihan kedaulatan nasional. Direktur Riset Politik Arktik dan Kelautan di Institut Fridtjof Nansen, Norwegia, Andreas Osthagen, menegaskan bahwa klaim masyarakat Inuit Greenland memperumit rencana penguasaan wilayah tersebut. “Karena Anda menambahkan gagasan tak berwujud tentang budaya dan sejarah masyarakat adat, maka Anda tidak bisa, tidak ada cara untuk memberi harga padanya,” ujar Osthagen. “Itulah mengapa gagasan itu tidak masuk akal,” lanjutnya.
Opsi Militer Masih Terbuka
Meskipun pembelian menjadi opsi yang diutamakan, pemerintahan Trump belum sepenuhnya menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Pemerintah “Negeri Paman Sam” menyatakan, semua opsi masih terbuka dalam rencana strategisnya di kawasan Arktik. Pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dengan para pemimpin Denmark yang dijadwalkan berlangsung pekan ini diperkirakan akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai arah kebijakan AS terhadap Greenland.