Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan Pimpin Penangkapan Narkoba Dewi Astutik di Kamboja

Kaila Azzahra
6 Min Read

Penangkapan Dewi Astutik, Gembong Narkoba Lintas Negara

Tim Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menangkap seorang gembong narkoba lintas negara yang dikenal sebagai Dewi Astutik. Penangkapan ini dilakukan di Kamboja dan dipimpin oleh Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan. Dewi Astutik diketahui terlibat dalam penyelundupan 2 ton sabu yang melibatkan jaringan internasional.

  • Tim BNN RI berhasil menangkap buronan kasus narkotika Dewi Astutik (42) di Kamboja.
  • Dewi Astutik sudah lama dicari karena berperan sebagai pengendali serta perekrut kurir untuk jaringan internasional di Indonesia.
  • Wanita asal Jawa Timur ini masuk dalam daftar buron BNN RI.
  • Nama Dewi Astutik ada di balik penyelundupan 2 ton narkoba senilai Rp 5 triliun yang diangkut menggunakan kapal KM Sea Dragon Tarawa di Kepulauan Riau beberapa waktu lalu.

Penangkapan Dewi Astutik tidak lepas dari peran penting yang dimainkan oleh Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan. Ia memimpin tim BNN dalam penangkapan gembong narkoba yang paling dicari saat ini. Kepala BNN Komjen Pol. Suyudi Ario Seto menyatakan bahwa Dewi Astutik terlibat dalam kasus penyelundupan sabu seberat 2 ton pada Mei 2025. “DPO yang dimaksud ini diduga merupakan aktor utama dari penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp5 triliun dan kasus narkotika lainnya yang terjadi di wilayah Indonesia,” ujar Suyudi.

Kini, Dewi Astutik telah dibawa ke Indonesia untuk pemeriksaan lebih lanjut. Proses hukum akan dilanjutkan agar seluruh jaringan narkoba yang ia kelola dapat diungkap secara menyeluruh.

Profil Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan

Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan lahir di Medan pada 16 Februari 1970. Ia kini berusia 55 tahun. Selama menjadi anggota Polri, Roy pernah berdinas baik di dalam maupun luar Pulau Jawa. Pada 2007, ia menjabat sebagai Kepala Unit IV Sat Ops I Direktorat Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Jawa Barat. Kemudian, pada 2015, ia menjadi Direktur Reserse Kriminal Khusus di Kepolisian Daerah Bengkulu.

Pada 2020, Brigjen Pol Roy duduk di kursi Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Maluku Utara. Tahun 2021, ia ditunjuk sebagai Kepala BNN Provinsi Kalimantan Tengah. Dikutip dari bnn.go.id, Brigjen Pol Roy kemudian ditarik ke BNN pusat dan dilantik sebagai Direktur Penindakan Dan Pengejaran Deputi Bidang Pemberantasan BNN di Ruang Muhammad Hatta Gedung Tan Satrisna BNN Lt. 7, pada Kamis (8/6/2023).

Roy kini menyandang pangkat Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol). Ia memiliki tiga gelar akademik, yaitu Sarjana Ilmu Kepolisian (S.I.K.), Sarjana Hukum (S.H.), dan Magister Hukum (M.H.). Beberapa penghargaan juga diraih oleh Roy, termasuk penghargaan atas dedikasi dan kinerja luar biasa dalam pengungkapan jaringan bandar narkoba di Kampung Pungutan Kota Palangkaraya pada 2021.

Sepak Terjang Dewi Astutik

Dewi Astutik, perempuan asal Ponorogo, Jawa Timur, dikenal sebagai otak dari berbagai penyelundupan narkotika skala besar. Ia terlibat dalam upaya penyelundupan dua ton sabu jaringan Golden Triangle yang berhasil digagalkan pada Mei 2025, serta sejumlah kasus besar pada 2024 yang berhubungan dengan kelompok Golden Crescent.

Menurut laporan kompas.com, Dewi Astutik berhasil dilacak dan ditangkap di Sihanoukville melalui operasi senyap lintas negara yang dipimpin Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan. Ia diamankan saat berjalan menuju lobi sebuah hotel di kawasan tersebut. Dewi juga diketahui menjadi buronan otoritas Korea Selatan.

Setelah ditangkap, Dewi langsung dibawa ke Phnom Penh, Kamboja, untuk memastikan identitasnya dan menjalani proses penyerahan resmi antarotoritas sebelum dibawa pulang ke Indonesia. Sesampainya di Tanah Air, Dewi akan diperiksa secara menyeluruh untuk mengungkap jaringan yang selama ini ia kelola mulai dari alur pendanaan, distribusi logistik, hingga para pelaku lain yang ikut terlibat.

BNN menegaskan bahwa proses penindakan tidak berhenti hanya pada penangkapan tokoh utama. Upaya pemberantasan akan berlanjut hingga seluruh struktur jaringan narkoba yang selama ini beroperasi secara luas dan terorganisasi dapat dibongkar tuntas.

Rekrutmen Kurir Narkoba oleh Dewi Astutik

Dewi Astutik ternyata telah merekrut ratusan orang Indonesia untuk menjadi kurir narkoba di luar negeri. Pada kasus terakhir, penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun dari KM Sea Dragon Tarawa di perairan Karimun, Kepulauan Riau, pada 20 Mei 2025, kurir-kurir ini tiketnya juga dipesan orang yang berhubungan dengan Dewi Astutik.

Marthinus Hukom, yang saat itu menjabat Kepala BNN RI, menyatakan bahwa Dewi Astutik memainkan peran penting dalam proses rekrutmen kurir. “Dewi Astutik tidak hanya menjadi master mind di kasus penyelundupan 2 ton sabu di kapal Sea Dragon Tarawa, tapi juga di kasus-kasus besar lainnya.”

Menurut Marthinus, Dewi Astutik sudah menjadi pimpinan jaringan ini. Namun, dia yakin Dewi bukan pimpinan tertinggi karena hasil analisisnya, dia terhubung dengan sindikasi di Afrika yang beroperasi di wilayah Thailand dan semenanjung Malaya.

Nama Dewi Astutik sebenarnya sudah menjadi perhatian publik sejak 2024. Saat itu, ia disebut-sebut sebagai pemasok heroin dalam kasus penyelundupan 2,76 kg yang berhasil diungkap BNN. Kasus tersebut bermula pada 24 September 2024 ketika petugas Bea Cukai Soekarno-Hatta mencurigai seorang pria berinisial ZM yang baru tiba di Terminal 3 setelah terbang dari Singapura. Pemeriksaan bagasinya menemukan 2.760 gram heroin yang disembunyikan rapi di balik dinding koper.

Dari keterangan ZM, tim BNN langsung bergerak dan menangkap SS. Pemeriksaan SS kemudian mengarah pada pelaku lain, AH, yang diduga sebagai sosok yang memberi perintah kepada ZM dan SS. AH diketahui meminta keduanya mengambil heroin dari seorang perempuan di Kamboja, yang tak lain adalah Dewi Astutik.


Share This Article
Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *