Kasus Dugaan Mark Up Harga dalam Program Wakaf Al-Qur’an yang Melibatkan Taqy Malik
Program wakaf Al-Qur’an yang dijalankan oleh YouTuber sekaligus penghafal Al-Qur’an, Taqy Malik, kini menjadi perhatian publik setelah muncul dugaan adanya mark up harga. Hal ini menarik perhatian mantan mertua Taqy Malik, yaitu Sunan Kalijaga, yang mengungkapkan keprihatinannya terhadap isu tersebut.
Mushaf merupakan naskah Al-Qur’an yang digunakan sebagai pedoman dalam membaca kitab suci, sementara wakaf adalah bentuk pemberian sukarela untuk kepentingan ibadah atau kemaslahatan umum. Oleh karena itu, praktik wakaf identik dengan nilai keikhlasan dan amanah. Dugaan adanya mark up dalam program wakaf pun menjadi perhatian serius, terlebih karena menyangkut kepercayaan publik dan nilai religius.
Sunan Kalijaga menyampaikan bahwa ia prihatin dengan kabar yang beredar. Ia menekankan pentingnya penyelesaian yang jelas dan transparan agar persoalan ini tidak menimbulkan polemik berkepanjangan.
“Ya, yang pasti saya prihatin, ya. Saya prihatin dan semoga bisa segera diselesaikan, dituntaskan. Yang benar itu benar, yang salah itu salah. Begitu,” ujar Sunan Kalijaga.
Ia juga menyinggung pemahamannya tentang praktik wakaf Al-Qur’an yang lazim dilakukan oleh umat Islam, khususnya di Tanah Suci. Menurutnya, wakaf merupakan bentuk donasi untuk kepentingan ibadah, bukan aktivitas yang berorientasi pada keuntungan.
“Dan seharusnya, saya bukan ustaz, ya, saya bukan ustaz, tapi saya berusaha untuk taat. Setahu saya, orang banyak di sana, termasuk kami kemarin baru pulang umrah di Madinah, itu yang kami tahu bukan jual beli kitab suci Al-Qur’an.”
Sunan juga menyoroti informasi yang ia terima terkait sosok anak muda yang dikenal religius, namun justru dikaitkan dengan dugaan praktik mark up tersebut. Ayah dari selebgram Salmafina Sunan ini menyayangkan jika dugaan tersebut benar terjadi, karena dinilai bertentangan dengan nilai yang selama ini melekat pada sosok tersebut.
“Namun, saya mendapatkan info dari teman-teman bahwa ada seorang anak muda, ya, yang bukan mengaku, tapi dikenal adalah seorang anak yang katanya saleh, atau mungkin ada yang menyebut dia dengan panggilan ustaz, kok malah saya mendapatkan info anak ini diduga melakukan mark up kitab suci.”
Lebih lanjut, Sunan Kalijaga berharap pihak berwenang dapat turun tangan untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, sehingga persoalan ini dapat diselesaikan secara objektif dan adil.
“Saya minta khususnya Kementerian agama ya segera menurunkan atau membentuk tim mengusut masalah ini.”
Kronologi Dugaan Mark Up
Dugaan ini mencuat setelah selebgram yang tinggal di Arab Saudi, Randy Permana, yang juga dikenal sebagai sahabat Taqy Malik, mengungkap kronologi dan pengalamannya secara langsung.
Randy mengaku mengetahui sejak awal bagaimana program wakaf itu berjalan, termasuk dinamika di lapangan yang melibatkan pembelian mushaf hingga perhatian otoritas setempat.
“Jadi saya kenal Taqy Malik memang sudah lama, dan saya sendiri memang pekerjaan saya di Saudi, ya di Mekah dan Madinah, karena saya sehari-hari memang melayani tamu-tamu jemaah umrah seperti itu.”
Ia menjelaskan, program wakaf tersebut mulai berjalan pada 2023, ketika Taqy mulai membuka donasi wakaf Al-Qur’an yang dibeli langsung dari percetakan resmi di Madinah.
“Nah, singkat cerita, di tahun pertama kalau enggak salah, waktu itu 2023, A Taqy mulai membuka wakaf Quran, yang di mana saat itu ketika kita berwakaf Quran, kita itu masih bisa satu orang membeli dua tiga karton di pabrik percetakannya di Madinah, yang harga memang harga pabrik itu sekitar 25 riyal di sana.”
Menurut Randy, saat itu jumlah mushaf yang dibeli mencapai ribuan eksemplar. Namun, pembelian dalam jumlah besar itu kemudian memicu perhatian pihak otoritas.
[NAMA FILE GAMBAR: ]
Setelah adanya pembatasan, pembelian mushaf dalam jumlah besar menjadi sulit dilakukan, terutama bagi jemaah yang datang menggunakan visa umrah.
“Nah, kemudian akhirnya dari situ kita sudah tidak bisa membeli ketika saya mendapat titipan dari jemaah. Misal saya membawa jemaah satu bis, biasanya titip untuk wakaf. Saya membeli itu untuk 200–300 itu enggak bisa, sudah dibatasi.”
Meski demikian, Randy mengaku telah mengingatkan Taqy agar lebih berhati-hati dalam menjalankan program tersebut.
“Nah, singkat cerita, tahun kedua dia melakukan itu lagi. Saya sudah bilangin, ‘Bro, hati-hati ya. Jangan terang-terangan. Jangan. Saya sendiri juga melakukan untuk menyalurkan wakaf, tapi saya memang dari jemaah yang saya bawa, dan itu jemaah kadang saya ajak belanja juga di tempatnya.'”
[NAMA FILE GAMBAR: ]
Ia bahkan menyarankan agar distribusi mushaf dilakukan secara bertahap untuk menghindari kecurigaan otoritas.
“Nah, karena tahun kedua saya sudah bilangin, ‘Bro, kalau kamu mewakafkan mushaf, menyalurkan mushaf, dicicil saja 50, 100 antar ke masjid. Jangan langsung ribuan seperti itu.”