Naftali Bennett: Ancaman bagi Kekuasaan Netanyahu

Eka Syaputra
9 Min Read

Latar Belakang dan Perjalanan Naftali Bennett

Naftali Bennett adalah tokoh politik yang kini menjadi sorotan di tengah dinamika politik Israel. Dikenal sebagai penantang serius bagi Benjamin Netanyahu, ia memiliki latar belakang yang unik: mantan prajurit elit, pengusaha teknologi sukses, serta politisi religius yang tegas. Kombinasi ini menawarkan narasi segar bagi warga Israel yang ingin perubahan.

Lahir pada 25 Maret 1972 di Haifa dari orang tua imigran Amerika, Bennett mewarisi semangat Zionisme yang kuat. Ayahnya, Jim, seorang entrepreneur, dan ibunya, Myrna, aktivis komunitas, menanamkan nilai-nilai Yudaisme Ortodoks Modern sejak dini. Tragedi Holocaust yang menimpa sebagian keluarganya dari pihak ibu turut membentuk pandangan dunianya yang teguh mengenai keamanan dan eksistensi Israel.

Pendidikannya di Yeshiva Yavne dan keterlibatan sebagai pemimpin di organisasi pemuda Bnei Akiva menjadi fondasi awal jejak religius dan sosialnya. Namun, jalan hidupnya benar-benar terbentuk saat ia memasuki dinas militer.

Bennett bergabung dengan unit elit Sayeret Matkal dan Maglan, terlibat dalam berbagai operasi tempur, termasuk konflik Lebanon dan Operasi Grapes of Wrath. Pengalaman di medan perang ini memberinya kredensial keamanan yang sulit ditandingi politisi kebanyakan.

Setelah menyelesaikan hukum di Universitas Ibrani Yerusalem, Bennett memasuki dunia bisnis teknologi. Ia mendirikan Cyota, perusahaan keamanan siber yang dijual dengan nilai fantastis $145 juta pada 2005. Kesuksesan serupa ia raih sebagai CEO Soluto, yang kemudian dibeli dengan harga sekitar $100–130 juta. Latar belakang ini memberinya citra sebagai pemimpin yang memahami ekonomi modern dan inovasi.

Masuk ke Gelanggang Politik

Awal karier politik Bennett justru dimulai di sekitar Netanyahu, sebagai Kepala Stafnya pada 2006. Namun, ketidakpuasan terhadap gaya politik sang mentor mendorongnya untuk mengambil jalan sendiri. Pada 2011, bersama Ayelet Shaked, ia mendirikan gerakan My Israel, yang kemudian menjadi motor penggerak karier politiknya.

Pada pemilu 2013, partai Bayit Yehudi (Rumah Yahudi) pimpinannya meraih 12 kursi, sebuah terobosan yang mengejutkan. Sebagai Menteri Ekonomi (2013–2015), Bennett memperkenalkan reformasi regulasi untuk mendorong investasi. Di posisi Menteri Layanan Keagamaan, ia memperkuat hubungan negara dengan institusi religius.

Saat memimpin Kementerian Pendidikan (2015), ia mendorong kurikulum yang lebih fleksibel dan berorientasi pada keterampilan abad ke-21. Sedangkan sebagai Menteri Urusan Diaspora, ia aktif mempererat hubungan dengan komunitas Yahudi di seluruh dunia.

Kontras dengan Netanyahu



Ilustrasi Potret Benjamin Netanyahu – (/Daan Yahya)

Di tengah dominasi Netanyahu yang pragmatis dan penuh taktik, Bennett hadir dengan gaya yang lebih ideologis dan langsung. Ia lebih vokal membela hak komunitas religius, menekankan Zionisme tradisional, dan bersikap keras dalam isu keamanan serta kedaulatan wilayah. Citranya sebagai “orang biasa” yang dekat dengan basis pemilih, berbeda dengan citra elite Netanyahu, menjadi daya tarik tersendiri.

Elektabilitasnya terus merangkak naik, terutama di kalangan pemilih sayap kanan religius, generasi muda yang lelah dengan politik lama, dan warga yang menginginkan kepemimpinan baru. Survei terbaru menunjukkan potensinya yang serius untuk merebut suara dari Netanyahu. Namun, tantangan tetap ada: pengalaman diplomasi internasional yang terbatas, citra “terlalu keras” di mata pemilih moderat, serta ketergantungan pada koalisi sayap kanan yang rentan pecah.

Netanyahu Bergegas, Bennett Bersiap

Memasuki tahun politik yang panas, Israel bersiap menghadapi pemilihan umum yang penuh ketidakpastian. Netanyahu, yang merasakan ancaman nyata dari naiknya popularitas Bennett, diduga sedang melakukan manuver untuk mempercepat jadwal pemilu.



Pemimpin partai oposisi Israel Naftali Bennett melambai kepada pendukungnya di dekat Tel Aviv – (thearabweekly.com)

Strategi ini dinilai banyak pengamat sebagai upaya curang untuk merebut momentum sebelum narasi kegagalan keamanan 7 Oktober semakin mengkristal di benak publik. Dengan memajukan pemilu, Netanyahu berharap dapat memanfaatkan mesin partai yang masih solid dan mengeksploitasi sentiment nasionalisme di tengah perang yang belum usai.

Bennett, di sisi lain, tampak tidak tergesa-gesa. Ia memanfaatkan waktu untuk memperkuat basis dukungan di akar rumput, khususnya di wilayah permukiman dan komunitas religius. Kampanyenya berfokus pada penyampaian gagasan ekonomi yang inovatif dan keamanan yang tak kenal kompromi, sambil terus mengkritik kepemimpinan Netanyahu yang dianggap gagal mencegah tragedi 7 Oktober.

Proyeksi Kebijakan

Jika Benjamin Netanyahu berhasil mempertahankan takhtanya, hubungan Israel dengan Amerika Serikat diprediksi akan tetap berada dalam pola “persahabatan yang tegang.” Netanyahu kemungkinan besar akan terus menggunakan pendekatan transaksional, terutama jika Donald Trump kembali berkuasa atau jika ia harus berhadapan dengan administrasi Demokrat yang skeptis.

Ia akan sangat vokal menentang setiap upaya diplomasi AS dengan Iran, sambil terus menekan Washington untuk memberikan dukungan militer tanpa syarat, meski itu berarti mengabaikan tekanan AS terkait solusi dua negara di Palestina.

Poros Abraham dan Pengekangan Iran ala Netanyahu

Di Timur Tengah, kemenangan Netanyahu berarti kelanjutan ambisi perluasan Abraham Accords, dengan target utama normalisasi hubungan dengan Arab Saudi sebagai pencapaian mahkota diplomasinya.

Terhadap Iran, Netanyahu akan mempertahankan strategi “perang di antara peperangan” (war between wars), yang melibatkan sabotase intelijen dan serangan udara terhadap aset pro-Iran di Suriah dan Lebanon. Ia cenderung menghindari perang terbuka skala besar dengan Iran secara langsung, namun akan terus memprovokasi komunitas internasional agar menjatuhkan sanksi ekonomi yang melumpuhkan terhadap Teheran.

Skenario Kemenangan Bennett: Diplomasi Pragmatis dengan Gedung Putih

Sebaliknya, jika Naftali Bennett memenangkan pemilu, diperkirakan akan terjadi perubahan gaya diplomasi terhadap Washington. Bennett, dengan latar belakangnya yang fasih dalam budaya bisnis Barat, kemungkinan besar akan berusaha memperbaiki hubungan yang retak dengan menghindari konfrontasi publik yang keras seperti yang sering dilakukan Netanyahu.

Meskipun Bennett secara ideologis sangat kanan, ia cenderung lebih pragmatis dalam berkoordinasi dengan AS untuk mencapai tujuan keamanan bersama, tanpa harus menciptakan kebisingan politik yang merusak hubungan bilateral.

Bennett dan Pendekatan “Kepala Gurita” Terhadap Iran

Kebijakan Bennett terhadap Iran diproyeksikan akan lebih agresif dalam taktik operasional. Bennett adalah pencetus doktrin “Kepala Gurita,” yang menyatakan bahwa Israel tidak boleh hanya menyerang kaki tangan Iran (seperti Hizbullah atau Hamas), melainkan harus langsung menyerang “kepalanya” di Teheran.

Di bawah Bennett, serangan rahasia di dalam wilayah Iran kemungkinan akan meningkat frekuensinya. Ia akan berusaha membuktikan bahwa Israel tidak membutuhkan izin siapa pun, termasuk AS, untuk melumpuhkan program nuklir Iran jika dianggap telah melewati ambang batas kritis.

Stabilitas Kawasan dan Narasi Kedaulatan

Terkait negara-negara Timur Tengah lainnya, Bennett akan lebih fokus pada penguatan aliansi keamanan regional yang bersifat taktis daripada sekadar seremonial. Ia mungkin kurang agresif dalam mengejar normalisasi publik jika itu menuntut konsesi wilayah yang besar, karena basis pendukungnya yang sangat pro-permukiman.

Bagi Bennett, kedaulatan Israel adalah harga mati; ia lebih memilih Israel menjadi “benteng yang tak tertembus” di Timur Tengah daripada harus berkompromi dengan negara tetangga demi pengakuan diplomatik yang dianggapnya bisa merapuhkan keamanan nasional.

Komparasi: Taktik Bertahan vs Inovasi Serangan

Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada manajemen risiko. Netanyahu adalah pemain catur yang sangat berhati-hati; ia menggunakan ancaman Iran untuk menjaga persatuan domestik dan posisi tawarnya di dunia internasional.

Sementara itu, Bennett adalah seorang petarung yang percaya pada inovasi militer dan serangan kejutan. Jika Netanyahu menang, dunia akan melihat kelanjutan status quo yang penuh manuver politik; namun jika Bennett menang, Timur Tengah mungkin harus bersiap menghadapi tindakan militer Israel yang lebih berani dan sulit ditebak arahnya.

Dilema Amerika Serikat di Tengah Pilihan Israel

Pada akhirnya, siapa pun yang menang, Amerika Serikat akan tetap menghadapi dilema strategis. Washington harus memilih antara mendukung Netanyahu yang manipulatif namun dapat diprediksi, atau Bennett yang kooperatif secara diplomatik namun sangat berbahaya dalam aksi militernya terhadap Iran.

Pilihan rakyat Israel dalam pemilu mendatang bukan hanya menentukan siapa yang duduk di Yerusalem, tetapi juga akan menentukan apakah Timur Tengah akan tetap berada dalam “perang dingin” yang panjang atau terseret ke dalam konfrontasi terbuka yang dapat mengubah peta geopolitik dunia selamanya.

Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *