Pandangan Mantan Duta Besar RI terhadap Kesiapan Prabowo sebagai Mediator Konflik Iran-AS-Israel
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan kesiapan untuk menjadi mediator dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel. Namun, pandangan dari mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, menunjukkan ketidakpercayaan terhadap kemampuan Indonesia sebagai penengah dalam konflik tersebut.
Menurut Dian, Indonesia masih memiliki tantangan besar dalam menjadi pihak yang diakui oleh kedua belah pihak dalam konflik. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa Indonesia tidak mengakui Israel secara diplomatik. “Jika ingin menjadi penengah, kita harus diakui oleh kedua pihak yang berkonflik,” ujar Dian.
Tantangan Utama dalam Mediasi
Dian menekankan bahwa kebijakan Indonesia saat ini dinilai condong ke AS. Hal ini terlihat dari keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) bersama Amerika dan Israel. “Saya kira mungkin Iran pun dalam hal ini tidak akan happy menerima Indonesia menjadi mediator karena Indonesia sudah ada di pihak Amerika kok,” tambahnya.
Selain itu, Dian menyoroti bahwa Indonesia belum memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel. Ini menjadi hambatan signifikan dalam upaya mediasi antara negara-negara yang terlibat dalam konflik. Ia juga mencontohkan pengalamannya saat ditugaskan untuk menjadi penengah antara Palestina dan Israel pada awal tahun 2000-an.
Pengalaman Masa Lalu sebagai Penengah
Dian bercerita bahwa ia pernah diangkat sebagai penengah antara Palestina dan Israel. Ia bahkan mengatur pertemuan antara Indonesia dan Israel di Jenewa, termasuk tingkat menteri luar negeri. Namun, respons yang diterima dari pihak Israel sangat negatif.
“Ketika saya mencoba menjadi penengah, menteri luar negeri Israel kaget kenapa Indonesia mau jadi mediator. Mereka bilang ‘kalau Indonesia mau jadi penengah, besok kami umumkan siap, tapi ada satu syarat, akui Israel’. Jawaban menteri kita lucunya waktu itu adalah ‘ya karena konstituen kami islam, walaupun moderat belum bisa menerima adanya pengakuan terhadap Israel’,” jelas Dian.
Ia menambahkan bahwa menteri Israel merespons dengan mengatakan, “kalau Indonesia punya konstituen, kami juga punya konstituen. Bagaimana kami mempertanggungjawabkan konstituen kami bahwa kami menerima mandat kepada Indonesia yang tidak mengakui.”
Rekomendasi untuk Fokus pada Masalah Dalam Negeri
Menurut Dian, langkah Prabowo untuk terbang ke Teheran guna memediasi konflik antara Iran dan AS lebih baik diganti dengan fokus pada masalah dalam negeri. “Maaf, dengan segala hormat bapak presiden, lebih baik fokus pada keadaan dalam negeri. Masih banyak PR yang harus dikerjakan,” imbuh Dian.
Pandangan ini menunjukkan bahwa Dian melihat bahwa Indonesia belum siap untuk menjadi mediator dalam konflik internasional yang kompleks seperti ini. Ia menilai bahwa tugas utama Presiden seharusnya adalah menyelesaikan isu-isu domestik yang lebih mendesak.
Kesimpulan
Meskipun Presiden Prabowo menunjukkan keinginan untuk terlibat dalam diplomasi global, Dian Wirengjurit menilai bahwa Indonesia masih memiliki banyak hambatan dalam menjadi mediator konflik antara Iran, AS, dan Israel. Keterbatasan hubungan diplomatik dengan Israel serta persepsi bahwa Indonesia condong ke AS menjadi alasan utama ketidakpercayaan ini.
Dian menyarankan agar pemerintah lebih fokus pada isu-isu dalam negeri sebelum mencoba memediasi konflik internasional yang kompleks. Dengan demikian, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai negara yang diakui secara diplomatik dan memiliki kredibilitas dalam dunia internasional.