Perang Besar di Timur Tengah: Serangan Bersama AS-Israel terhadap Iran
Sebuah serangan besar-besaran dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada hari Sabtu pagi. Operasi ini menandai tingkat ketegangan yang meningkat dalam konflik regional, dengan ancaman konflik yang semakin nyata. Serangan tersebut menargetkan berbagai lokasi strategis di seluruh wilayah Republik Islam, dan dilaporkan terus berlangsung sepanjang hari.
Target dan Tujuan Operasi
Menurut laporan, serangan tersebut menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta Presiden Masoud Pezeshkian. Selain itu, sejumlah komandan tinggi rezim dan militer Iran juga disebut menjadi sasaran. Namun, hasil pasti dari serangan tersebut belum dapat dipastikan. Seorang pejabat Israel menyebutkan bahwa operasi tersebut dilakukan secara terkoordinasi dan terencana.
Seorang sumber Iran yang dekat dengan Garda Revolusi mengungkapkan bahwa beberapa komandan senior serta pejabat politik dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa AS telah memulai “operasi tempur besar di Iran.” Ia menyebut kampanye tersebut sebagai operasi besar dan berkelanjutan untuk mencegah “kediktatoran radikal” mengancam kepentingan keamanan nasional AS.
Trump juga menegaskan bahwa proksi-proksi Iran di kawasan tidak akan lagi dibiarkan mengganggu stabilitas regional maupun menyerang pasukan AS. Ia bahkan mengindikasikan tujuan operasi tersebut adalah menggulingkan rezim Iran dan menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka.
Respons Iran dan Serangan Rudal
Iran merespons dengan serangan rudal ke wilayah Israel. Sekitar pukul 10.00 pagi, Teheran meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel. Hingga pukul 17.30 waktu setempat, sekitar 40 rudal dilaporkan telah ditembakkan, memaksa jutaan warga Israel berlindung di tempat penampungan. Belum ada laporan korban jiwa, tetapi seorang remaja berusia 17 tahun dilaporkan mengalami luka ringan akibat pecahan rudal di wilayah Israel tengah.
Iran juga dilaporkan menargetkan beberapa negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Pemantau internet NetBlocks melaporkan Iran hampir mengalami pemadaman internet total, langkah yang disebut mirip dengan kebijakan saat konflik sebelumnya dengan Israel.
Nama Operasi dan Kesiapan Militer
Israel menyatakan operasi militernya terhadap Iran diberi nama “Roaring Lion”, sementara Washington menamai kampanyenya “Epic Fury”. Serangan ini terjadi meski sebelumnya Washington dan Teheran disebut-sebut sepakat melanjutkan perundingan nuklir pekan depan. Sehari sebelum serangan, Trump menyatakan belum mengambil keputusan terkait opsi militer terhadap Iran.
Militer Israel (IDF) mengumumkan telah memanggil sekitar 20.000 tentara cadangan tambahan, di luar 50.000 personel yang sudah bertugas. Serangan gabungan disebut menyasar puluhan target militer dalam operasi yang luas dan terkoordinasi. Menteri Pertahanan Israel menyatakan keadaan darurat nasional telah diberlakukan. Wilayah udara Israel ditutup untuk penerbangan sipil hingga pemberitahuan lebih lanjut, sementara kegiatan pendidikan dan pertemuan publik dihentikan.
Rekaman dari Teheran menunjukkan kepulan asap di sejumlah titik. Laporan media oposisi Iran menyebut rumah dan kantor sejumlah pejabat tinggi menjadi sasaran, meski belum ada konfirmasi resmi. Sejumlah pejabat AS kepada media internasional menyatakan kampanye pengeboman kali ini kemungkinan jauh lebih luas dibanding operasi sebelumnya terhadap fasilitas nuklir Iran pada konflik pertengahan 2025.
Militer Israel menegaskan bahwa rezim Iran masih berupaya memperkuat, melindungi, dan menyembunyikan program nuklirnya, serta memulihkan kapasitas produksi rudal. Operasi gabungan ini, menurut mereka, bertujuan menghilangkan ancaman eksistensial terhadap Israel dalam jangka panjang.